5 Oktober 2011
…selamat ulang tahun, ibu !
bahagiamu adalah bahagiaku.
setiap doa yang mengalir dari untaian nafasmu adalah nyawa hidupku.
dan engkaulah alasanku untuk selalu tetap tersenyum.
bahagia sepanjang masa untuk ibu.
- segenap cinta dari ananda -
( rindu kecupan kening dan cium tangan ibu )
———————————————-
Oh every time I close my eyes
I see my name in shining lights
A different city every night oh
I swear the world better prepare
For when I’m a billionaire
———————————————-
Lirik yang menarik dan menggelitik disampaikan seorang Bruno Mars dalam lagunya Billionaire yang menginspirasi saya untuk terus bermimpi dan memperjuangan mimpi saya.
Ya, saya percaya bahwa setiap orang mempunyai mimpi masing – masing. Bukan mengenai mimpi apa kita semalam, tapi mengenai mimpi tentang hidup seperti apa yang kita ingini.
Pastinya kita masih ingat ketika sewaktu kanak – kanak, orang tua kita atau guru sekolah kita kerap kali menanyakan “Besok kalau kamu sudah besar mau jadi apa ? “ atau “ Cita – cita kamu apa ? “. Beragam jawaban terlontar dari kita masing – masing, bukan ? Sebut saja “Saya mau jadi dokter”, “ Saya mau jadi pilot” dan masih banyak beragam cita – cita yang disebutkan.

Nah, berawal dari pertanyaan sederhana itulah, mimpi kita berawal. Saya percaya bahwa diantara kita yang telah dewasa sekarang ini telah menjadi seseorang sesuai dengan yang dicita-citakan, atau paling tidak sedang menuju apa yang dicita – citakan semasa kecil. Saya mengucapkan selamat kepada teman – teman yang saat ini telah berhasil meraih cita – cita masa kecilnya dan semoga saja terus menghidupinya sehingga akan tumbuh lagi cita – cita atau mimpi baru yang akan memperkuat siapa Anda sekarang.
Apakah mimpi atau cita – cita itu hanya terbatas pada “Siapakah Aku Nanti ? “ Dan apakah ketika kita berhasil menjadi seseorang yang sesuai dengan cita – cita masa kecil, mimpi kita berhenti disitu ? Tentu saja masih ada begitu banyak cita – cita dan mimpi yang kita coba raih terus hingga saat ini. Nah, sampai sejauh manakah kita menghidupi mimpi dalam kehidupan yang kita jalani sekarang ini ?
“ All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them. “
- Walt Disney –
Kehidupan yang kita jalani semestinya merupakan suatu kehidupan yang luar biasa yang diwarnai dengan mimpi – mimpi yang menjadikan hidup penuh dengan harapan, lebih bergairah dan sarat dengan dinamika. Mimpi merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan yang kita sadari atau tidak, telah memberikan energi dalam hidup kita. Sederhananya, kita akan terus ‘hidup’ karena ada mimpi yang akan kita kejar. Mengejar mimpi memang tidak semudah mengatakan ‘Saya ingin ini, saya ingin itu’ atau sekedar memimpikannya.
Untuk mengejar dan menghidupi mimpi, kita perlu ‘memiliki’ mimpi itu, menciptkan imaji / gambaran di dalam benak kita dan membuatnya menjadi sebuah kenyataan. Namun kerap kali kita mendapati orang – orang disekitar kita memutuskan untuk berhenti bermimpi karena memang harus kita sadari bahwa kita hidup dalam sebuah komunitas dimana kita dipaksa untuk realistis, dan beranggapan bahwa mimpi itu selayaknya kita punyai sewaktu masih kanak – kanak. Sering kali kita mendengar ungkapan : “Ah, kamu ini cuman mimpi ! Apa bisa kamu memiliki itu? Apa kamu sanggup? Realistis sajalah. “ Hal semacam itulah yang kemudian melemahkan energy kita dan itulah alasannya mengapa kita membatasi diri kita sendiri dan tidak pernah mengejar / meraih apa yang kita inginkan.
Keraguan sejatinya merupakan ‘the most killer of our dreams’ dan berlaku layaknya seorang pencuri yang mencuri kepercayaan diri kita yang sebenarnya telah berani mengambil resiko untuk masuk ke dalam ranah yang belum kita ketahui. Mengikuti ungkapan klasik yang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu hal yang mustahil jika kita mau, memang benar bahwa kita bisa mendapatkan segala sesuatu yang kita impikan dan sah saja jika kita bermimpi meskipun kita bukan seorang anak kecil lagi. Disini, kita ditantang untuk berani bermimpi lagi, bukan sekedar mengatakan ‘Ah, itu tidak mungkin’ tapi bagaimana kita menghidupi mimpi kita setiap hari.
Mungkin saja kita telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk kesibukan sehari – hari, sementara itu kita menyisihkan apa yang menjadi impian dalam hidup kita. Bisa saja dalam satu titik kita benar – benar merasa tidak mampu dan gagal, dan pada saat itu memutuskan untuk mengubur dan melupakan mimpi selama ini. Atau kita merasa tidak memiliki kemampuan, sehingga memutuskan untuk berhenti mengejarnya.
Sekarang, apapun yang kita hadapi, tidak ada yang lebih baik selain membangkitkan kembali semua impian kita yang pernah terkubur dalam; menjadikan hari ini dan setiap harinya sebagai hari yang paling tepat untuk mengubah hidup kita dan menghadapi setiap permasalahan dengan lebih bijak serta dengan hati yang penuh rasa syukur.
Jadikan ‘hari ini’ sebagai hari dimana kita menemukan kembali ‘semangat membangun impian dan mengejar impian’ dengan disertai keyakinan. Keberhasilan hanya akan terjadi ketika kita yakin bahwa kita mampu mencapai apa yang kita tuju. Saya yakin, di antara kita telah banyak mengalami dinamika kehidupan yang sering kali menempatkan kita pada keadaan yang tidak menentu. Namun dibalik itu, kita tentunya telah menemukan pula begitu banyak harapan untuk membangun kembali impian kita. Dengan menemukan tujuan hidup dan mimpi kita, dan sekali kita berlari mengejar impian itu, tidak ada satupun yang mampu menghalanginya karena kita telah menyingkirkan segala alasan, sehingga seolah – olah tidak ada pilihan lain selain untuk berhasil.

Bermimpilah, karena mimpilah yang membuat kita hidup. Dan kejarlah seperti seorang pelari yang terus menatap ke depan hingga garis akhir; dan disanalah kebahagiaan dan kebanggan akan menjadi milik kita.
- indrayust -
5 Oktober 2011 – Hari Ulang Tahun Ibunda -
( images are taken from heartpath.files.wordpress.com & wikipedia.org )
23 : 23. The application has been sent.
Hari ini adalah hari dimana aku membuat suatu keputusan yang sangat berarti bagi hidupku. Setelah mempertimbangkan banyak hal dan tertunda oleh begitu banyak kesibukan, akhirnya surat lamaran itu aku kirimkan.
Keinginan yang sebenarnya sudah lama ingin aku wujudkan. Selalu saja tertunda. Dengan beragam alasan, halangan dan sekian banyak ketidakcocokan waktu.
Tapi aku percaya, bahwa segala sesuatu telah diatur sebelumnya. Dan aku yakini, bahwa hari ini adalah saat yang paling tepat, dimana aku berada dalam kondisi / suasana hati yang tenang, jauh lebih tenang. Dan kembali terngiang pesan bijak yang menyebutkan bahwa : Tuhan telah mempersiapkan segala sesuatu indah pada waktunya. Mungkin ini waktu yang Tuhan berikan kepadaku untuk “saatnya berbuat sesuatu untuk diri saya sendiri”.

Ya, hari ini aku merasakan kebebasan. Bebas dari segala beban yang selama ini menumpuk dan terasa begitu berat. Hingga yang aku rasakan hanyalah kelelahan yang tiada habisnya.
Mengapa begitu berat ? Karena aku belum melepaskan beban itu, aku biarkan beban itu terus bersarang di pundak kehidupanku. Tanpa memberikan sedikit pun kesempatan kepada diriku sendiri untuk ‘berisitirahat’ dan meletakkan sejenak beban itu.
Hari ini, tepatnya malam ini, aku meletakkan sejenak beban itu dari pundakku, menikmati ringannya pundak yang selama ini tertekan. Dan ketika beban itu aku lepaskan, aku serahkan beban itu kepada Sang Empunya Kehidupan.
“Tolong titip sebentar yah ! Pundak saya capek ! ” begitu kira - kira kalimat yang ku ucapkan kepada Sang Empunya Kehidupan.
Dan apa yang terjadi kemudian, muncullah rasa damai dan tenang dari dalam hati. Ketika aku menyerahkan semuanya, - beban hidup, semua rasa sedih, khawatir dan bahkan segala bahagia -, bukan lah rasa itu hilang. Tapi yang ada adalah rasa damai yang sesungguhnya. Tidak ada rasa yang menyesak, atau luapan emosi yang meledak - ledak.
Hanya ada air mata.
Bukan air mata kesedihan atau kebahagiaan. Namun arti mata kebebasan. Air mata syukur. Air mata haru yang keluar dari hati.
Betapa damainya hati yang aku rasakan ketika aku berani melepaskan dan berani menyerahkan segala sesuatu yang ada di dalam hidupku.
Banyaknya tuntutan kehidupan terlalu sering membuat aku lupa bahwa aku tidak mampu menyangga semua beban itu sendirian ataupun membiarkan beban itu terus bersarang di hidupku terlalu lama.
Hari ini, kembali aku belajar arti nya pasrah. Sumeleh kalau kata orang Jawa.
Ketika kita sumeleh - lepaskan dan serakan -. hidup akan menjadi lebih ringan dibawa untuk melangkah. Dan ketika hidup yang kita jalani terasa lebih ringan, apapun yang kita lakukan, akan terasa lebih mudah. Dan membuahkan hasil yang jauh lebih baik. Dan tentunya ada kepasrahan untuk membiarkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sebagai bagian dari skenario yang sudah disiapkan sebelumnya.
Biarkan semuanya terjadi. Terjadi seturut dengan kehendak Sang Empunya Kehidupan.
Ketika tiada keabadian, apalagi yang harus ditakuti ?
Kesedihan hari ini akan berganti dengan kebahagiaan di esok hari. Demikian juga kegagalan saat ini akan tergantikan dengan kesuksesan di masa yang akan datang.
Hanya dengan keyakinan bahwa “aku tidak sendiri” dan membiarkan Sang Empunya Kehidupan ikut campur tangan dalam setiap kehidupan yang kita jalani, hidup akan menjadi lebih bermakna. Menjadi lebih indah. Karena ada senyum yang akan selalu mengembang setiap detiknya. Apapun yang terjadi.
“…..serahkanlah hidup dan matimu, pada Allah semata, serahkan duka gembiramu, agar damai senantiasa hatimu. “

Let go and Let God !
- indrayust -
( images taken from discoveringlifenow.com mentalxpress.files.wordpress.com )